skip to Main Content
Copyright 2018 - All Rights Reserved
Abdi

Abdi

Di tahun 2014, ketika ia menjadi wakil gubernur, beberapa cerita saya dapatkan dari rekan-rekan dan juga sosial media, bagaimana cepat tanggapnya Basuki Tjahaja Purnama, atau yang yang sering disapa Ahok, ketika menerima pengaduan dari masyarakat di dalam permasalahan yang mereka temui. Salah satu cerita saya dapatkan dari teman bercerita di sosial media, bahwa ia mendapatkan tetangganya mengadukan permasalahan lampu jalan di kompleknya rusak. Setelah mengirimkan pesan permintaan layanan pemerintah lokal tersebut, Basuki atau Ahok mengirimkan petugas dari departemen bersangkutan. Dalam waktu kurang dari lima hari, permasalahan lampu di komplek tersebut berhasil diselesaikan hanyadengan memulai mengadukannya kepada petugas negara kita melalui telepon genggamnya.

Operasional telepon genggam Ahok pada saat itu didiskusikan oleh Netizen bahwa ada tim yang menanganinya, mereka sukarelawan dalam pro gerakan reformasi mental Ahok dan Presiden Joko Widodo yang saat itu memegang jabatan awal sebagai Gubernur DKI sebelum menjadi presiden RI. Mendapatkan permasalahan sama dengan lingkungan, saya menggunakan cara yang sama untuk menghubungi Ahok melalui telepon genggamnya. Permasalahan yang meragukan saya untuk melaporkannya kepada Wagub DKI pada saat itu, karena masalah yang ditemui adalah masuk dalam wilayah, Ciputat, yang tidak lagi bagian dari Jakarta Selatan, tetapi wilayah Tangerang Selatan, Banten.

Setiap pagi menuju ke tempat kerja, saya harus melewati Pasar Ciputat. Pasar Ciputat terkenal ramai dari pukul 12.00 tengah malam, yakni para pedagang sayur berdatangan untuk berdagang, tidak hanya di dalam koridor pasar yang disediakan, para pedagang akan mengisi lahan kosong yang dianggap menguntungkan dagangan mereka hingga ke tengah jalan. Para pembeli berbelanja sayur dalam jumlah massal terutama para penjual sayur rumah tangga, hingga para pemilik kantin dan Warung Tegal (Warteg). Proses perdagangan dari tengah malam akan berlagsung hingga pukul 8 pagi, di mana giliran para ibu rumah tangga dan para pembantu rumah tangga yang juga memenuhi pasar dan jalan, lalu di dalam jam yang bersamaan, penduduk yang tinggal di pinggir Jakarta, seperti Bintaro, BSD dan sekitarnya akan memenuhi jalan untuk mengantri masuk ke pusat kota, lokasi di mana semua dari mereka bekerja. Bak barisan semut yang berbaris setiap pagi menuju kumpulan gula di tengah kota. Hal ini menimbulkan kemacetan jalan berkepanjangan.

Permasalahan ini saya sampaikan kepada Wagub Ahok, “saya tahu Tangerang Selatan (TangSel) bukan wilayah bapak, (tapi sebagai wargaTangsel belum memiliki pemimpin yang membuka SMS-nya untuk warga), bersediakah bapak untuk confere dengan pemerintahTangSel untuk permalahan ini?” Tak lama, di sore hari dalam hari yang sama,saya menerima balasan dari Ahok, “Terima kasih atas laporannya.” Esok lusa, saya berangkat ke kantor, dan terkagum dengan jalanan yang lancar melewati pasar yang dipenuhi petugas Satpol PP yang merapikan jalan, membantu para pedagang kaki lima menyingkir dari jalanan. Menurut saya ini luar biasa, berarti Ahok memiliki kemampuan luar biasa dalam bernegosiasi bahkan di luar wilayah teritorinya.

Saya ingat, pada masa kecil, setiap pagi mengenakan seragam putih merah, sewaktu-waktu, melihat ayah saya yang seorang pegawai negeri Pekerjaan Umum, mengenakan baju KORPRI yang merupakan akronim dari Korps Pegawai Negeri, diikuti dengan tagline Abdi Negara. Ketika saya menanyakan pada ibu saya, apa artinya abdi, ibu menjelaskan abdi memiliki makna kata membantu, mengabdi, bekerja untuk negara (makna ini sekarang bisa dirujukkankepada KBBI: Kamus Besar Bahasa Indonesia dapat ditemukan daring). Maka ketika menjadi pengabdi negara, menurut orang tua saya yang pegawai negeri, berarti kita bekerja bagi kepentingan bangsa, bukan kepentingan pribadi.

Selama memerintah, sebelum ia masuk penjara, ketika diwawancara di depan TV, Ahok selalu mengeluarkan kalimat dari mulutnya “saya ini abdi negara,” itu berulang kali ia ucapkan, yang berarti, ia melakukan segala sesuatu untuk bangsa, ia sudah berhasil sering membuktikannya, setiap rakyat mengadu, ia langsung turun tangan.

Penulis: Mirna Marini D. Arifin, penulis, linguistic dan visual anthropology

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top